Oleh: Lilis Budiarsih, S.Pd
Ada seseorang yang waktu hidupnya hanya digunakan untuk befoya-foya dengan kekayaannya, meskipun orangtuanya adalah seorang ustadz, namun ia hampir tidak pernah shalat di masjid. Jarak Ia dengan Allah begitu jauh, hingga suatu hari ia tertimpa musibah kecelakaan mobil. Dari kecelakaan tersebut ia tidak bisa berjalan dengan normal karena kakinya tidak bisa untuk digerakkan. Dari hasil pemeriksaan dokter tidak ditemukan sebab-sebab kelumpuhannya. Ia sebenarnya hanya mengalami shock neuronitis yang memengaruhi kakinya sulit bergerak.
Suatu hari, Ia mendegar adzan maghrib, entah kenapa tiba-tiba suara adzan itu terdengar merdu, menyentuh hati, hingga menggerakkan persaannya, seolah-olah itu adalah suara adzan pertama kali yang ia dengar dalam hidupnya. Seketika itu kedua matanya berlinang dan akhirnya ia meminta saudaranya untuk mengantar ke masjid untuk shalat berjamaah.
Hari demi hari, bahkan tahun demi tahun ia merasakan nikmatnya shalat di masjid meskipun dalam keadaan payah, bahkan di waktu subuhpun ia usahakan untuk tetap hadir shalat di masjid. Suatu malam sebelum shalat subuh ia bermimpi ditemui oleh ayahnya yang sudah meninggal. Dalam mimpinya, ayahnya menepuk pundaknya, kemudian ayahnya berkata ”jangan engkau sedih anakku, Allah telah mengampuniku karena dirimu.” Mimpi itu tidak hanya sekali Ia dapati, namun berulangkali. Sejak saat itu Ia seamkin semangat untuk mengerjkan shlat dan ibadah lainnya, atas rasa syukur yang Allah karuniakan kegembiraan dan ketenagan padanya.
Suatu pagi, Ia shalat subuh di masjid sebelah rumahnya, Ia duduk di bagian ujung shaf pertama dengan bantuan kursi roda. Imam mulai membaca doa qunut, lama namun syahdu. Hatinya tersentuh dengan doa imam tersebut, hingga ia meneteskan air mata. Tubuhnya juga ikut gemetar, jantungnuya berdegup kencang seolah-olah ia merasakan maut akan segera tiba. Setelah hatinya hatinya tenang ia lanjutkan shalatnya, kemudian setelah salam , Ia merasakan kekuatan yang menjalar pada tubuhnya. Ia mencoba perlahan-lahan untuk berdiri ternyata ia bisa melakukannya dan akhirnya ia menggeser kursi rodanya, dan ia berdiri dengan telpak kakinya dan shalat sebagai bentuk rasa syukur ke hadirat Allah Swt.
Jamaah yang ada di sekelilingnya memberikan selamat, tampak mereka terharu hingga beberapa diantaranya menangis seakan-akan ikut bahagia dengan kesembuhan yang Ia rasakan. Lalu imam datang memeluknya dan membisikkan ke telinganya “Jangan sekali-kali kau lupakan anugerah dan rahmat Allah atas dirimu ini. Jika dirimu kembali bermaksiat terhadap Allah, maka kembalilah ke kursi roda itu dan jangan meninggalkannya selama-lamanya.”
Nah dari kisah di atas , pelajaran yang terkait dengan ibadah shalat adalah selain shalat merupakan bentuk komunikasi penghambaan kita kepada Allah, pasti banyak manfaat yang di dapat dari segi kesehatan, yaitu sebagai terapi jiwa dan raga.