Menemukan Allah Lewat Akal dan Iman

Oleh : Lilis Budiarsih

Setelah mengetahui instrumen beriqra’ maka timbul pertanyaan apa urgensi iqra’ itu sendiri?

Secara umum, orang yang beriqra’ atau berliterasi pasti akan berbeda dengan orang yang enggan berliterasi. Secara pengetahuan umum, orang yang enggan berliterasi pasti akan lebih tertinggal sehingga terkesan kurang pergaulan, kurang pengalaman bahkan kurang wawasan. Namun beri’qra’, berliterasi di sini tidak hanya sekedar bertujuan mengenyangkan otak dengan berbagai informasi pengetahuan umum yang hanya mengendap pada tataran akal. Namun tujuan beriqra’ ini adalah untuk menyentuh sendi-sendi kesadaran diri  agar mampu mendapatkan jawaban yang cerdas mengenai  siapa dirinya dan siapa yang menciptakannya.

Iqra’ dalam hal ini  merupakan proses menemukan pengetahuan dengan indera, akal dan hati yang dilakukan dengan bimbinga wahyu Allah. Perintah Allah dalam wahyu pertama ini mengandung makna yang sangat luar biasa sehingga kedahsyatan  beriqra’ ini akan mampu membentuk seseorang menjadi pribadi yang bertauhid manakala membacanya dengan benar. Maka inilah mengapa beriqra’ itu sangat penting. Hal ini sesuai firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 121, yang artinya sebagai berikut;

“Orang-orang yang telah kami berikan al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah (2): 121)

Iman seseorang juga akan dipengaruhi oleh kualitas membacanya. Jika seseorang telah membaca al-Qur’an dengan sempurna  dalam proses mentadaburrinya,  maka ini akan menghasilkan keimanan yang dapat dibuktikan pada implementasi isi kandungan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Antara lain mendirikan sholat, berinfaq, sebagaimana firman Allah yang artinya sebagai berikut;

“ Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan peringatan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir (35):29)

Paparan di atas sugguh jelas, sehingga  dapat ditarik kesimpulan bahwa iqro’ sangat penting dikarenakan beberapa hal berikut ini;

Iqra’, pembeda antara manusia dan binatang

Melihat pada instrumen beriqra’ yaitu indera, akal, hati sudah jelas bahwa secara lahiriyyah

antara manusia dan binatang sudah berbeda. Untuk itu jika ada manusia yang tidak memaksimalkan potensi yang dimilikinya untuk briqra’ maka apa bedanya dengan binatang? Bahkan akan lebih rendah derajatnya dibanding binatang tersebut. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya, yang berbunyi;

“ Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata(tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tada-tanda kekuasan Alah), dan mereka mempunyai telinga (tetap) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkaan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf(7): 179)

Iqra’ merupakan fitrah utama manusia

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat an-Nahl yang artinya sebagai berikut;

“ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl(16):17)

Manusia lahir ibarat kertas putih yang masih suci atau dalam keadaan fitrah. Namun Allah telah melengkapi manusia dengan instrumen pendengaran, penglihatan, dan hati. Oleh karena itu dengan bekal instrumen yang telah dianugerahkan manusia sejak dalam kandungan tersebut harus difungsikan dengan membaca sehingga fitrah tersebut akan terjaga.

Iqra’ merupakan proses mengetahui (ber-ilmu)

Sebagaiman telah dijelaskan di atas bahwa orang yang suka membaca pasti akan mendapatkan berbagai informasi dari hasil membacanya, apalagi membaca dengan segenap instrumen yang dimiliki secara benar dan berdasarkan wahyu, maka akan lebih mantap lmu yang diperoleh.

Iqra’ mengantarkan manusia untuk membedakan yang haq dan bathil

Menurut para ulama Umar bin Khattab memiliki doa agar ditunjukkan kepada kebenaran. Hal ini disebutkan oleh al-Buhuty dalam ktabnya, Syarah Muntaha al-iradat, lalu menyandarkannya kepada Umar. Doa tersebut sering dibaca oleh kaum Muslimin. Doa tersebut berbunyi;

للَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Artinya: “Ya Allah, tunjukkanlah bahwa yang haq itu haq, dan karuniakanlah kami kekuatan untuk mengikutinya(memperjuangkannya). Dan tunjukkanlah bahwa yang batil itu sebagai batil, dan karuniakanlah kami kekuatan utuk menjauhinya(menghapuskannya).”

Iqra’  menjadikan seseorang memiliki keyainan teguh.

Hal ini ditegaskan Allah dalam surat Ali Imran ayat 7 yang artinya;

“…. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘ kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)melainkan orang-orang yang berakal”(QS.Ali Imran (3): 7)

Sungguh syarat manfaat ketika aktivitas beriqra’ ini betul-betul dilaksanakan oleh semua umat.  Kekuatan iman serta bagusnya pemahaman terhadap ajaran islam akan terbentuk manakala kesadaran beriqra’ ini sudah tumbuh pada diri umat islam, sehingga penyimpangan perilaku beragama tidak akan terjadi lagi dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu A’lam Bishawwab.

Chat WhatsApp